JOMBANG – Dalam upaya mewujudkan lingkungan sekolah yang aman, sehat, dan kondusif bagi perkembangan siswa, SMK Kreatif Hasbullah Bahrul Ulum Tambakberas Jombang menggelar kegiatan strategis berupa Workshop Penguatan Wali Kelas. Acara yang berlangsung khidmat ini menghadirkan Pengawas Sekolah, Ibu Nanik Surtini, S.Pd., sebagai narasumber utama untuk memberikan pembekalan mendalam mengenai pembinaan karakter, budaya positif, serta tata tertib kedisiplinan sekolah. Melalui kegiatan ini, peran wali kelas didorong untuk lebih kuat dan aktif sebagai garda terdepan dalam mendeteksi sekaligus membina perilaku peserta didik sehari-hari.
Karakter Kuat: Kunci Menghadapi Tantangan Zaman
Dalam pemaparannya, Ibu Nanik Surtini menekankan bahwa tantangan dunia pendidikan saat ini telah bergeser. Prestasi akademik yang tinggi tidak lagi menjadi satu-satunya indikator kesuksesan seorang siswa jika tidak diiringi dengan pondasi karakter yang kokoh. Beliau menyoroti beberapa persoalan klasik yang kerap ditemui di lingkungan sekolah, mulai dari kurangnya disiplin, rendahnya rasa tanggung jawab, kasus perundungan (bullying), pelanggaran tata tertib, hingga merosotnya kepedulian sosial di kalangan remaja.

”Berbagai masalah kedisiplinan dan sosial di sekolah sejatinya berakar dari lemahnya pembinaan karakter. Oleh karena itu, wali kelas harus hadir bukan sekadar sebagai pengurus administrasi kelas, melainkan sebagai figur pembimbing utama yang mampu mentransfer nilai-nilai karakter mulia kepada siswa,” tegas Nanik Surtini di hadapan para peserta workshop.
Beliau memaparkan tiga peran sentral yang melekat pada diri seorang wali kelas, yaitu:
1. Orang Tua di Sekolah: Wali kelas wajib mengenal siswa secara personal, mulai dari latar belakang keluarga, potensi, minat, bakat, hingga permasalahan pribadi yang sedang mereka hadapi.
2. Teladan (Role Model): Karena siswa lebih mudah meniru perilaku dibanding mendengarkan nasihat verbal, wali kelas harus konsisten menunjukkan sikap disiplin, tanggung jawab, kesopanan, dan kejujuran.
3. Motivator: Memberikan dorongan moril agar siswa tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, memiliki tujuan belajar yang jelas, serta berani mengembangkan diri.
Membangun Budaya Positif Melalui Kesepakatan Kelas
Salah satu poin penting yang diangkat dalam workshop ini adalah bagaimana membangun budaya positif di lingkungan sekolah secara berkelanjutan. Menurut Nanik, budaya positif tidak bisa tumbuh secara instan atau melalui pemaksaan, melainkan harus dikonstruksikan bersama siswa. Langkah awal yang paling efektif adalah menyusun Kesepakatan Kelas. Kesepakatan ini mencakup komitmen bersama mengenai kehadiran, kebersihan, sikap selama proses pembelajaran, hingga etika berkomunikasi.
Selain itu, sekolah juga harus membiasakan hal-hal positif sederhana seperti budaya senyum-salam, pelibatan aktif siswa dalam kegiatan kelas, serta refleksi di akhir kegiatan. Apresiasi juga memegang peranan krusial. Dibanding terus-menerus fokus pada kesalahan, wali kelas didorong untuk memberikan apresiasi positif kepada siswa yang menunjukkan perilaku baik, seperti siswa paling rajin, paling disiplin, atau yang menunjukkan kepedulian sosial tinggi terhadap temannya.

Alur Penanganan Pelanggaran: Adil, Konsisten, dan Terukur
Untuk menjaga iklim belajar yang kondusif, SMK Kreatif Hasbullah Bahrul Ulum Jombang menerapkan aturan kedisiplinan yang ketat namun tetap mendidik. Ibu Nanik memaparkan pentingnya pemahaman wali kelas terhadap klasifikasi pelanggaran siswa yang terbagi menjadi tiga kategori yaitu pelanggaran ringan, pelanggaran sedang, dan pelanggaran berat: Seperti perkelahian, bullying, dan tindakan podana. Penanganan kasus ini memerlukan koordinasi intensif dengan Guru BK dan Waka Kesiswaan, serta pemanggilan resmi orang tua siswa.
Beliau juga membedah secara rinci prosedur alur penanganan kedisiplinan agar penanganan masalah di sekolah berjalan konsisten dan tidak tebang pilih. Wali kelas bertindak sebagai penerima laporan pertama, mengidentifikasi masalah, dan bekerja sama dengan Guru BK. Jika pelanggaran berat tidak menunjukkan perubahan perilaku setelah diberikan bimbingan, maka Guru BK akan menggelar konferensi kasus dengan melibatkan orang tua, wali kelas, Waka Kesiswaan, bahkan guru bidang studi (Surat Pemanggilan 2 / SP2). Jika seluruh tahapan pembinaan tetap tidak diindahkan, keputusan akhir dapat berupa pengembalian siswa kepada orang tua (Surat Pengembalian / SP3) setelah dikoordinasikan dengan Kepala Sekolah.
Teknik Pembinaan “Dengar hingga Komitmen” dan Kolaborasi Orang Tua
Dalam sesi interaktif, Nanik Surtini mengingatkan para pendidik tentang pentingnya teknik komunikasi saat melakukan pembinaan individu. Beliau dengan tegas mengingatkan para guru untuk menghindari tindakan yang kontraproduktif, seperti memarahi siswa di depan umum, melabeli mereka secara negatif, membanding-bandingkan antarsiswa, atau langsung menghakimi tanpa mendengar penjelasan.
Di samping itu, kunci keberhasilan pembinaan ini ada pada sinergi dengan wali murid. Mengingat waktu siswa di sekolah hanya berkisar 7 jam sedangkan sisanya (17 jam) dihabiskan bersama keluarga, maka kolaborasi erat dengan orang tua adalah harga mati. Komunikasi harus dibangun secara berkelanjutan, terbuka, dan solutif baik melalui pertemuan berkala, grup komunikasi kelas, maupun tindakan responsif seperti kunjungan rumah (home visit) untuk siswa yang memerlukan perhatian atau pendampingan khusus.
Dengan terselenggaranya Workshop Penguatan Wali Kelas ini, diharapkan seluruh jajaran pendidik di SMK Kreatif Hasbullah Bahrul Ulum Tambakberas Jombang dapat semakin solid, memiliki kesamaan visi, dan mampu menciptakan ekosistem sekolah ramah anak yang berkarakter kuat, religius, serta berdisiplin tinggi.

